Kalimat

KALIMAT 

 

 Kalimat mengandung pikiran, ide, ungkapan hati, pesan, atau emosi. Supaya maksud atau ‘unek-unek’ tersebut dapat dimengerti oleh orang lain –pembaca atau pendengar- hendaknya maksud tersebut disusun dengan baik dan benar menurut kaidah bahasa yang berlaku. Kalimat tersusun atas unsur-unsur dasar –S, P, O, Pel, Ket. Unsur-unsur tersebut mempunyai fungsi tertentu dalam kalimat. Unsur-unsur tersebut membentuk beberapa pola kalimat dasar. Kalimat dasar tersebut dapat dikembangkan menjadi bermacam-macam kalimat sesuai dengan jenis klausanya, struktur internal klausa, hubungan aktor-aksi, ada tidaknya unsur negatif, kesederhanaan dan kelengkapan dasar, posisinya dalam percakapan, konteks dan jawaban, serta susunan S-P.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KALIMAT

Mengapa menyusun kalimat yang benar itu perlu? Kalimat mengandung pikiran, ide, ungkapan hati, pesan, atau emosi. Supaya maksud atau ‘unek-unek’ tersebut dapat dimengerti oleh orang lain –pembaca atau pendengar- hendaknya maksud tersebut disusun dengan baik dan benar menurut kaidah bahasa yang berlaku. Apa sebenarnya kalimat itu? Bagaimana menyusun kalimat yang benar? Marilah kita baca lebih lanjut uraian berikut.

1.     Definisi Kalimat

Definisi kalimat cukup beragam, tetapi maknanya sama. Berikut ini beberapa definisi kalimat yang disampaikan oleh beberapa ahli linguistik bahasa Indonesia:

1.       Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi final (kalimat lisan), dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa. Dapat dikatakan bahwa kalimat membicarakan hubungan antara klausa dan klausa yang lain.

2.       Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intosasi akhir.[2]

3.       Kalimat adalah satuan bahasa yang berisi suatu pikiran atau amanat yang lengkap.[3]

4.       Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri dari klausa.

5.       Kalimat adalah bagian ujaran atau tulisan yang mempunyai struktur minimal subjek dan predikat dan intonasi finalnya menunjukkan bagian ujaran (tulisan) itu sudah lengkap dengan makna (bernada berita, tanya, atau perintah).

2.     Syarat Kalimat dan Alat Pengetesnya 

Apakah sebuah pernyataan –lisan atau tertulis-  merupakan kalimat atau bukan? Persyaratan pokok yang perlu diperhatikan adalah adanya unsur predikat dan permutasi unsur kalimat.

Setiap kalimat dalam struktur lahirnya  sekurang-kurangnya memiliki predikat. Untuk menentukan predikat suatu kalimat, dapat dilakukan pemeriksaan apakah ada verba dalam rangkaian kata-kata itu, misalnya dalam contoh berikut:

-          Burung itu terbang.

-          Hamparan padi itu menguning.

Pada contoh di atas ada verbal terbang dan menguning. Apakah verba tersebut predikat? Untuk itu, perlu dilakukan perubahan urutan kata yang disertai perubahan intonasi. Perhatikan:

-          Terbang // burung itu.

-          Menguning // hamparan padi itu.

Bagaimana jika dalam suatu pernyataan tidak ada verba, tetapi terdapat nomina yang mengisi tempat predikat? Hal itu dapat dibuktikan dengan mengetes contoh berikut:

-          Wanita itu pedagang. à Pedagang // wanita itu.

Kata itu juga dapat dipakai untuk menentukan unsur subyek dan predikat kalimat, terutama jika subjek dan predikat kalimat itu berupa nomina. Misalnya:

-          Kuda itu// binatang. à Binatang // kuda itu.

Nomina yang tidak diikuti itu adalah predikat, sedangkan nomina yang diikuti itu adalah subjek.

Kata adalah, ialah, dan merupakan juga dapat digunakan sebagai penanda kalimat. Dengan kata lain,  suatu pernyataan yang di dalamnya terdapat satu dari ketiga kata itu menunjukkan bahwa pernyataan itu merupakan kalimat. Contoh:

-          Hipotek // adalah jaminan kekayaan.

-          Hipotek ialah jaminan kekayaan.

-          Hipotek merupakan jaminan kekayaan.

Kebanyakan pernyataan yang menggunakan kata adalah merupakan definisi (batasan).

Dalam ragam bahasa tulis untaian kata yang diawali dengan huruf kapital pada awal kata pertama dan diakhiri dengan tanda titik, tanda seru, atau tanda tanya adalah kalimat menurut pengertian kaidah ejaan. Perhatikan contoh-contoh berikut:

a)      Diawali huruf besar dan diakhiri tanda titik

-          Atom adalah bagian terkecil dari suatu unsur.

b)      Diakhiri tanda tanya

-          Dapatkah senjata nuklir dihapuskan?

c)       Diakhiri tanda seru

-          Hentikan peperangan!

d)      Tidak diakhiri tanda baca apapun

-          Dilarang merokok (DILARANG MEROKOK)

3.     Unsur-unsur Dasar dan Fungsinya[7]

Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa lama lazim disebut jabatan kata dan kini disebut peran kata, yaitu subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.  Pengenalan ciri-ciri subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan selain untuk menguraikan kalimat atas unsur-unsurnya, melainkan juga untuk mengecek apakah kalimat itu telah memenuhi syarat kaidah tata bahasa.

Kalimat bahasa Indonesia baku sekurang-kurangnya terdiri atas dua unsur, yakni S dan P. Unsur yang lain dapat wajib hadir, tidak wajib hadir, atau wajib tidak hadir dalam suatu kalimat.

3.1Subyek.

Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjuk pelaku, tokoh, sosok, sesuatu hal, atau suatu masalah yang menjadi pokok pembicaraan. Ciri-ciri subjek adalah:

a.         Subjek diisi oleh kata benda, frasa kata benda, klausa, atau frasa verbal. Contoh:

-        Ayahku sedang menulis.

-        Meja direktur besar.

-        Yang berbaju batik dosen saya.

-        Berjalan kaki menyehatkan badan.

-        Membangun jalan layang sangat mahal.

b.         Jawaban apa atau siapa

-        Apakah itu? Itu singa.

c.          Disertai kata itu

-        Gadis yang cantik itu menikah.

d.         Didahului kata bahwa

-        Bahwa dia tidak bersalah// telah dibuktikan.

e.         Mempunyai keterangan pembatas yang

-        Mobil yang merah hati itu // akan dijual murah.

f.          Tidak didahului preposisi

-       Hasil percobaan itu membuktikan bahwa panas matahari dapt dijadikan sumber energi.  Bukan Dari hasil percobaan itu …

3.2Predikat

Predikat merupakan unsur utama dalam suatu kalimat. Predikat suatu kalimat mengungkapkan pernyataan, perintah, pertanyaan, atau seruan.  Predikat menjadi komentar tentang subyek.

a.         Predikat dapat berupa verba, frasa verba, adjektiva, frasa adjektiva, numeralia, frasa numeralia, nomina, frasa nominal, atau frasa berpreposisi. Contoh:

-       Kuda merumput.

-       Ibu sedang tidur siang.

-       Putri Indonesia cantik jelita.

-       Kota  Jakarta dalam keadaan aman.

-       Kucingku belang (tiga).

-       Rahmat mahasiswa (baru).

-       Rumah Pak Hartawan lima (buah).

-       Rumah pamanku di Depok.

b.         Jawaban atas pertanyaan Mengapa atau Bagaimana

-        Irfan baik-baik.

-        Amir menyusun skripsi.

c.          Kata adalah atau ialah, terutama digunakan jika subyek kalimat berupa unsur yang panjang sehingga batas antara subjek dan pelengkap tidak jelas.

-       Jumlah pelama lulusan SLTA yang akan diterima sebagai calon pegawai negeri di lingkungan Departemen Keuangan adalah seribu seratus orang.

d.         Dapat diingkarkan

-        Wanita karier itu tidak melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.

e.         Dapat disertai kata-kata aspek  (telah, sudah, belum, akan, sedang) dan modalitas (mau, ingin, hendak), jika predikat kalimat berupa verba atau adjektiva.

-        Pembantu rumah tangga pun ingin kaya.

-        Desa-desa kecil sekarang telah maju dengan pesat.

3.3Objek

Objek adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat. Objek pada umumnya merupakan kata benda (nomina), frasa nominal, atau klausa. Letak objek selalu di belakang predikat –verba transitif. Contoh:

-        Nurul menimbang beras.

-        Arsitek merancang jembatan layang.

Objek juga dapat menjadi subjek kalimat pasif dan tidak didahului oleh preposisi. Contoh:

-        Tentara Israel dipukul mundur oleh Laskar Hizbullah.

3.4Pelengkap

Pelengkap atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat transitif. Pelengkap terletak di belakang predikat dan tidak didahului preposisi. Perbedaan antar objek dan pelengkap adalah objek dapat menjadi subjek pada kalimat pasif, sedangkan pelengkap tidak. Contoh:

-        Hadi memberi saya buku kamus. à Saya diberi Hadi buku kamus.

-       Temanku membawakan ibumu baju baru. à Ibumu dibawakan temanku baju baru.

3.5Keterangan

Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan predikat dalam sebuah kalimat. Posisi Keterangan boleh manasuka -di awal, di tengah, atau di akhir kalimat. Keterangan dapat berupa adverbia, frasa nominal, frasa preposisional, atau klausa. Berdasarkan maknanya terdapat bermacam-macam Keterangan dalam kalimat. Para ahli linguistik membagi keterangan yang terpenting atas sembilan macam (Hasan Alwi, dkk. 2003:366). Contoh:

a.       Diana mengambilkan air minum untuk adiknya dari kulkas. (keterangan tempat)

b.      Rustam Lubis sekarang sedang belajar melukis. (ket. Waktu)

c.       Lia memotong tali dengan gunting. (ket. Alat)

d.      Anak yang baik itu rela berkorban demi orang tuanya. (ket. Tujuan)

e.      Polisi menyelidiki masalah korupsi dengan hati-hati. (ket. Cara)

f.        Amir Burhan pergi dengan teman-teman sekantornya menyaksikan tabligh akbar. (ket. Peserta)

g.       Mahasiswa fakultas hukum berdebat bagaikan pengacara. (ket. Kemiripan/ similatif)

h.      Karena malas belajar, mahasiswa itu tidak lulus ujian. (ket. Sebab)

i.         Murid TK berpegangan tangan satu sama lain sambil bernyanyi gembira. (ket. Kesalingan)

3.6Intonasi kalimat

Selain unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan setiap kalimat harus pula dilengkapi dengan intonasi. Di dalam bahasa tulis intonasi kalimat ini dilambangkan dengan tanda baca titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!).

-       Presiden meresmikan pabrik kayu lapis di Ambon.

-       Siapa nama adikmu itu?

-       Bersihkan ruangan ini!

4.     Pola Kalimat Dasar 

 Kalimat dasar bukanlah nama jenis kalimat, melainkan acuan atau patron untuk membuat berbagai tipe kalimat. Kalimat dasar terdiri atas beberapa struktur yang dibentuk dengan lima unsur kalimat, yaitu S, P, O, Pel, Ket.

Berdasarkan fungsi dan peran gramatikalnya ada enam tipe kalimat yang dapat dijadikan model pola kalimat dasar bahasa Indonesia. Keenam tipe kalimat itu tercantum dalam tabel di bawah ini.

No.

 

S

P

O

Pelengkap

Keterangan

1.

S-P

Orang itu

sedang tidur

 

 

 

2.

S-P-O

Rani 

mendapat

piagam

 

 

3.

S-P-Pel

Beliau

menjadi

 

Ketua koperasi

 

4.

S-P-Ket

Kecelakaan itu

terjadi

 

 

tahun 1999

5.

S-P-O-Pel

Hasan

mengirimi

ibunya

surat

 

6.

S-P-O-Ket

Beliau

memperlakukan

kami

 

dengan baik

 

Keenam tipe kalimat dasar dalam bagan di atas tadi adalah kalimat tunggal, yaitu kalimat yang hanya memiliki satu S dan P. Setiap kalimat tunggal dapat dikembangkan menjadi kalimat majemuk (kalimat luas) dengan cara menambahkan kata, frasa, dan klausa sebagai S dan P yang kedua atau yang ketiga beserta unsur lain yang diperlukan.

5.     Jenis  Kalimat 

Kalimat dapat dibeda-bedakan menjadi beberapa jenis menurut jumlah klausa pembentuknya, bentuk (fungsi) isinya, kelengkapan unsurnya, dan susunan subjek predikatnya.

5.1            Kalimat dipandang dari segi jumlah dan jenis klausa yang terdapat pada Dasar

5.1.1      Kalimat Tunggal 

Kalimat tunggal adalah kalimat  yang mempunyai satu klausa (bebas). Berarti hanya ada satu P di dalam kalimat tunggal. Kalimat tunggal meliputi:

5.1.1.1      Kalimat nominal

-       Kami mahasiswa Ma’had Aliy.

5.1.1.2      Kalimat ajektival

-       Aminah cantik.

5.1.1.3      Kalimat verbal

-       Sapi-sapi sedang merumput.

5.1.1.4      Kalimat numeral

-       Mobilnya sembilan.

5.1.2      Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari beberapa klausa bebas. Kalimat majemuk dibagi menjadi  dua berdasarkan ketergantungan salah satu klausa pada klausa lainnya, yaitu:

5.1.2.1      Kalimat majemuk setara 

Kalimat Majemuk Setara adalah kalimat yang dibentuk dari dua atau lebih kalimat tunggal. Setiap klausa pada kalimat majemuk setara tidak saling bergantung. Masing-masing klausa mempunyai status atau derajat yang sama. Kata sambungnya selalu terletak di antara klausa tersebut, sehingga tidak boleh diletakkan di awal kalimat. Kalimat majemuk setara membutuhkan kata penghubung yang menunjukkan kesetaraan seperti dan, atau, sedangkan, atau tetapi. Kalimat majemuk setara dikelompokkan menjadi empat jenis menurut fungsi kata penghubungnya. Yaitu,

5.1.2.1.1       Kalimat mejemuk setara penjumlahan

Kata penghubung klausanya berfungsi menyatakan penjumlahan atau gabungan kegitan, keadaan, peristiwa, dan proses. Kata penghubung tersebut adalah  dan, serta, baik, maupun. Contoh:

-          Kami membaca dan mereka menulis.

5.1.2.1.2       Kalimat  majemuk setara pertentangan

Kata penghubung  klausanya berfungsi menyatakan bahwa hal yang dinyatakan dalam klausa pertama bertentangan dengan klausa kedua. Kata penghubung tersebut adalah  tetapi, sedangkan, bukannya, melainkan.  Contoh:

-          Amerikan dan Jepang tergolong negara maju, tetapi Indonesia dan Brunai  Darussalam tergolong negara berkembang.

-          Peserta seminar sudah berdatangan, sedangkan panitia belum siap menyambut mereka.

-          Dia bukan peniliti, melainkan pedagang.

5.1.2.1.3       Kalimat  majemuk setara pemilihan

Dalam Kalimat Majemuk Setara Pemilihan Kata penghubung  klausanya berfungsi menyatakan pemilihan di antara dua kemungkinan. Kata penghubung tersebut adalah atau. Contoh:

-          Kamu tinggal di sini atau ikut saya.

5.1.2.1.4       Kalimat  mjemuk setara perurutan

Kata penghubung klausanya berfungsi menyatakan kejadian yang berurutan. Kata penhubung tersebut adalah lalu, kemudian. Contoh:

-          Ia memarkir mobilnya di lantai 3, lalu naik lift ke lantai 7.

-          Mula-mula disebutkan nama-nama juara MTQ tingkat remaja, kemudian disebutkan nama-nama juara MTQ tingkat dewasa.

Dalam kalimat majemuk setara, ada yang berbentuk kalimat rapatan, yaitu suatu bentuk yang merapatkan dua atau lebih kalimat tunggal. Yang di rapatkan ialah unsur subjek atau unsur objek yang sama. Dalam hal seperti ini, unsur yang sama cukup disebutkan satu kali. Contoh:

a.       Kami berlatih. Kami bertanding. Kami berhasil menang.

Kami berlatih, kami bertanding, dan kami berhasil menang.

Kami berlatih, bertanding, dan berhasik menang.

b.      Menteri Agama tidak membuka seminar tentang zakat. Menteri Agama menutup seminar tentang zakat.

Menteri Agama bukan membuka, melainkan menutup seminar tentang zakat.

5.1.2.2        Kalimat majemuk bertingkat (bersusun)[13]

Kalimat majemuk bertingkat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:[14]

a.         Terdiri atas klausa yang menjadi induk kalimat dan klausa lainnya menjadi anak kalimat. Klausa induk kalimat dapat berdiri sendiri. Klausa anak kalimat tidak dapat berdiri sendiri jika terlepas dari induknya.

b.         Induk kalimat mendahului anak kalimat dan kata penghubungnya berada di antara kedua klausa tersebut.

c.           Dapat diawali dangan kata penghubung  atau dalam arti lain anak kalimat boleh terletak  pada awal kalimat.

d.         Kalimat majemuk bertingkat mempunyai kata penghubung yang berkaitan dengan sifat hubungan semantis antara anak kalimat dengan induk kalimat.

No

Jenis Hubungan

Kata Penghubung

a

Waktu

Sejak, sedari, sewaktu,sementara, seaya, setelah,sambil, sehabis, sebelum, ketika, tatkala, hingga, sampai

b

Syarat

Jika(lau), seandainya, andaikata, andaikan, asalkan, kalau, apabila, bilamana, manakala

c

Tujuan

Agar, supaya, untuk, biar

d

Konsesif

Walau(pun), meski(pun), sekali(pun), biar(pun), kendati(pun), sungguh(pun)

e

Pembandingan

Seperti, bagaikan, laksana, sebagaimana, daripada, alih-alih, ibarat

f

Sebab/ alasan

Sebab, karena

g

Akibat/ hasil

Sehingga, sampai-sampai, maka

h

Cara/alat

Dengan, tanpa

i

Kemiripan

Seolah-olah, seakan-akan

j

Kenyataan

Padahal, nyatanya

k

Penjelasan/ kelengkapan

bahwa

 

e.         Contoh-contoh kalimat majemuk bertingkat:

  • Dia datang ketika kami sedang rapat.
  • Lalu lintas akan teratur andaikata pemakai jalan berdisiplin tinggi.
  • Anda harus bekerja keras agar berhasil.
  • Semangat belajarnya tetap tinggi walaupun usianya sudah lanjut.
  • Aku mamahaminya sebagaimana ia memahamiku.
  • Anita menjadi mahasiswa teladan karena tekun, cerdas, dan sopan.
  • Gempa itu sedemikia hebatnya sehingga meruntuhkan jembatan beton
  • Perani berusaha meningkatkan panen dengan menanam bibit unggul.
  • Ibunya diam saja seakan-akan tidak mengetahui perbuatan anaknya.
  • Temanku bisa mendeskripsikan kota Yogyakarta, padahal dia belum pernah ke sana.
  • Saya perlu menjelaskan di sini bahwasaya belum bertemu dengan Pak Bupati.

5.2       Kalimat dipandang dari segi struktur internal klausa utama

5.2.1  Kalimat Sempurna

Kalimat yang dasarnya terdiri dari sebuah klausa bebas. Kalimat sempurna mencakup kalimat tunggal, kalimat bersusun, dan kalimat majemuk.

5.2.2  Kalimat Tak sempurna

Kalimat yang dasarnya hanya terdiri dari sebuah klausa terikat, atau sama sekali tidak mengandung struktur klausa. Kalimat tak sempurna mencakup kalimat urutan, sampingan, elips, tambahan, jawaban, seruan, dan minor. Contoh:

(“Mau ke mana kamu nanti sore?”)

“Ke Bandung”.

“Dengan siapa?”

“Teman”.

“Maksudmu?”

“Anto”.

5.3       Kalimat dipandang dari segi responsi yang diharapkan

5.3.1  Kalimat pernyataan

Kalimat yang dibentuk untuk menyiarkan informasi tanpa mengharapkan responsi tertentu. Contoh :

-          Ayah membaca koran.

5.3.2  Kalimat pertanyaan

Kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi berupa jawaban. Contoh:

-          Siapa namamu?

5.3.3  Kalimat perintah

Kalimat yang dibentuk untuk memancing responsi berupa tindakan. Contoh:

-          Pergilah!

5.4       Kalimat dipandang dari segi sifat hubungan aktor-aksi

5.4.1  Kalimat aktif

Kalimat yang subyeknya berperan sebagai pelaku atau aktor. Contoh:

-          Saya menulis surat

5.4.2  Kalimat pasif

Kalimat yang subyeknya berperan sebagai penderita. Contoh:

-          Kopi itu diminum ayah.

5.4.3  Kalimat medial

Kalimat medial adalah kalimat yang subyeknyaberperanan baik sebagai lplaku maupun sebagai penderita. Contoh:

-          Dia menghibur hatinya.

-          Aku menusuk jariku.

-          Aku mengamati mukaku.

5.4.4  Kalimat resiprokal

Kalimat resiprokal adalah kalimat yang subyek dan obyeknya melakukan sesuatu perbuatan yang berbalas-balasan. Contoh:

-          Kita harus tolong-menolong dengan tetangga kita.

-          Keluarga kami sering berkunjung-kunjungan dengan keluarga mereka.

-          Baku hantam antara Palestina dengan Israel sudah mulai mereda.

5.5       Kalimat dipandang dari segi ada atau tidaknya unsur negatif pada frase verbal utama

5.5.1  Kalimat afirmatif

Kalimat afirmatif atau kalimat pengesahan adalah kalimat yang pada frasa verbal utamanya tidak terdapat unsur negatif. Contoh:

-          Saya menulis surat.

-          Dia membaca buku.

5.5.2  Kalimat negatif

Kalimat negatif adalah kalimat penyangkalan adalah kalimat yang pada frasa verbal utamanya terdapat unsur negatif. Contoh:

-          Saya tidak menulis surat.

-          Dia tidak membaca buku.

5.6       Kalimat dipandang dari segi kesederhanaan dan kelengkapan dasar

5.6.1  Kalimat formata

Kalimat formata adalah kalimat tunggal dan sempurna.

5.6.2  Kalimat transformata

Kalimat transformata adalah kalimat lengkap tetapi bukan kalimat tunggal. Kalimat ini mencakup kalimat bersusun dan kalimat majemuk.

5.6.3  Kalimat deformata

Kalimat deformata adalah kalimat tunggal yang tak sempurna. Yang termasuk dalam golongan kalimat deformata adalah:

5.6.3.1      Kalimat urutan

Kalimat urutan adalah kalimat sempurna yang mengandung konjungsi seperti maka, jadi, tetapi, sedangkan, dan sebagainya. Contoh:

-          Maka berangkatlah mereka bertiga dengan sedih.

-          Jadi kami tidak mau membayar kerugian itu.

5.6.3.2      Kalimat sampingan

Kalimat sampingan adalah kaliamt tak sempurna yang terdiri dari klausa terikat, dan diturunkan dari kalima bersusun. Contoh:

-          Bahkan sebalikanya kelakuannya kian jelek.

-          Justru pergaulannya makin bebas.

5.6.3.3      Kalimat elips

Kalimat elips adalah kalimat tak sempurna yang terjadi karena pelenyapan beberapa bagian dari klausa, dan diturunkan dari kalimat tunggal. Contoh:

-          Apa kerjamu sore-sore? Membaca.

-          Siapa mengambil uang itu? Dia.

5.6.3.4      Kalimat tambahan

Kalimat tambahan adalah kalimat tak sempurnayang terdapat dalam wacana sebagai tambahan pada pernyataan-pernyataan yang telah dikemukakan. Contoh:

-          Saya akan pergi berlibur ke Bali. (pernyataan)

-          Minggu depan. (tambahan)

-          Selama sebulan. (tambahan)

5.6.3.5      Kalimat jawaban

Kalimat jawaban adalah kalimat tak sempurna yang bertindak sebagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan. Contoh:

-          Siapa namamu?

-          Amat.

5.6.3.6      Kalimat seruan

Kalimat seruan umumnya terbatas pada kelompok kata dan frasa sederhana saja. Kalimat panggilan, salam, teriakan, judul, motto, inskripsi, dan bahasa singkat pada telegram termasuk dalam kalimat seruan. Contoh:

-          Ibu!

-          Assalamu Alaikum.

-          Hai!

-          Layar Terkembang.

-          Hidup mulia atau mati syahid

-          Bagimu ibuku tercinta.

-          Segera pulang nenek meninggal dimakamkan sore ini

5.7       Kalimat dipandang dari segi posisinya dalam percakapan

5.7.1  Kalimat situasi

Kalimat situasi adalah kalimat yang memulai suatu percakapan. Kalimat situasi dapat juga mengikuti panggilan, salam, seruan, atau jawaban.

5.7.2  Kalimat urutan

Kalimat urutan adalah kalimat yang menyambung atau meneruskan suatu pembicaraan tanpa mengganti pembicara. Contoh:

-          Kemarin saya pergi mengunjungi nenek. (kalimat situasi)

-          Dia sangat gembira melihat saya. (kalimat urutan)

-          Dia memeluk saya karena gembiranya. (kalimat urutan)

-          Lau dia memberi uang kepada saya. (kalimat urutan)

5.7.3  Kalimat jawaban

Kalimat jawaban adalah kalimat yang menyambung atau meneruskan suatu pembicaraan dengan pergantian pembicara. Contoh:

-          Supir! Ya, pak. (kalimat jawaban)

5.8       Kalimat dipandang dari segi konteks dan jawaban yang diberikan

Dipandang dari segi konteks atau hubungan kalimat dan jawaban yang diberikan, maka dibedakan menjadi kalimat salam, panggilan, seruan, pertanyaan, permohonan, dan pernyataan.

5.9       Menurut susunan subyek predikatnya

5.9.1  Kalimat versi

Kalimat versi adalah kalimat yang S-nya mendahului P. Contoh:

-          Kuda makan rumput.

5.9.2  Kalimat inversi

Kalimat inversi adalah kalimat yang P-nya mendahului S. Contoh:

-          Berlari adik mengejar layangan putus.

6.       Kalimat Efektif

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan maksud penutur atau penulis secara tepat sehingga maksud itu dapat dipahami oleh pendengar atau pembicara secara tepat pula. Untuk dapat mencapai keefektifan tersebut, kalimat efektif harus memehuhi paling tidak enam syarat, yaitu adanya kesatuan, kepaduan, keparalelan, ketepatan, kehematan, dan kelogisan.

6.1       Kesatuan

Kesatuan adalah terdapatnya satu ide pokok dalam sebuah kalimat. Ide pokok tersebut boleh panjang atau pendek. Contoh:

a.       Kalimat yang tidak jelas kesatuan gagasannya

-          Berdasarkan agenda sekretaris manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru.

b.      Kalimat yang jelas kesatuan gagasannya

-          Berdasarkan agenda sekretaris, manajer personalia akan memberi pengarahan kepada pegawai baru.

6.2       Kepaduan

Kepaduan atau koherensi adalah terjadinya hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Contoh:

a.         Kalimat yang unsurnya tidak koheren

-          Kepada setiap pengemudi mobil harus memiliki surat ijin mengemudi.

b.         Kalimat yang unsurnya koheren

-          Setiap pengemudi mobil harus memiliki surat ijin mengemudi.

6.3       Keparalelan

Keparalelan atau kesejajaran adalah terdapatnya unsur-unsur yang sama derajatnya, polanya, atau susunan kata dan frasa yang dipakai di dalam kalimat. Contoh:

a.       Paralelisme yang salah

-          Kakakmu menjadi dosen atau sebagai pengusaha?

b.      Paralelisme yang benar

-          Kakakmu menjadi dosen atau menjadi pengusaha?

6.4       Ketepatan

Ketepatan adalah kesesuaian atau kecocokan pemakaian unsur-unsur yang membentuk suatu kalimat sehingga terjadi pengertian yang bulat dan pasti. Contoh:

a.       Kalimat yang tidak memperhatikan ketepatan

-          Karyawan teladan itu memang tekun bekerja dari pagi sehingga petang.

b.      Kalimat yang memperhatikan ketepatan

-          Karyawan teladan itu memang tekun bekerja dari pagi sampai petang.

6.5       Kehematan

Kehematan ialah adanya upaya mnghindari pemakaian kata yang tidak perlu. Contoh:

a.       Kalimat yang tidak hemat kata

-          Sekarang hari Jumat, besok hari Sabtu.

b.      Kalimat yang hemat kata

-          Sekarang Jumat, besok Sabtu.

6.6       Kelogisan

Kelogisan ialah terdapatnya arti kalimat yang logis atau masuk akal. Logis jug menuntut adanya pola pikir yang sistematis. Contoh:

a.       Kambing sangat senang bermain hujan. (padahal kambing tergolong binatang antiair)

b.      Karena lama tinggal di asrama putra, anaknya semua laki-laki. (tidak ada hubungan antara asrama putra dengan mempunyai anak laki-laki)

7.       Kesalahan Dalam Kalimat  

Kesalahan dalam kalimat meliputi Kesalahan Struktur, Kesalahan Diksi, dan Kesalahan Ejaan.

7.1 Kesalahan Kalimat Sebagai Akibat Ketaksaan Pikiran

7.1.1      Aktif dan Pasif

Contoh:

a.       Saya sudah katakan bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak mudah. (kalimat tidak benar)

b.      Saya sudah mengatakan bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak mudah. (kalimat perbaikan)

c.       Sudah saya katakan bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak mudah. (kalimat perbaikan)

Kalimat (a) menimbulkan ketaksaan; unsur manakah yang menjadi subjek kalimat itu. Apakah saya atau bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak mudah. Jika saya sebagai subjek, verba pengisi predikat kalimat (a) tidak benar. Verba itu seharusnya berbentuk aktif, yang ditandai oleh awalan meng-, karena subjek kalimat berperan sebagai pelaku. Jadi, kalimat (a) dapat diperbaiki menjadi kalimat aktif dengan menambahkan awalan meng- pada verba katakan, seperti kalimat (b).

Jika subjek kalimat (a) adalah bahwa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar itu tidak mudah, maka bentuk predikat kalimat (a) tidak benar. Predikat kalimat (a) seharusnya berbentuk pasif. Predikat pasif yang berlaku pronomina (saya) ditandai oleh bentuk verba tanpa awalan di-  yang mendahului pronominal. Di antara verb dan pronomina itu tidak disisipkan unsur lain. Jadi dengan memindahkan kata sudah ke depan pronominal, kalimat (a) menjadi kalimat pasif yang benar seperti kalimat (c).

7.1.2       Subjek dan keterangan

Contoh:

a.       Dalam konferensi tingkat tinggi negara-negara nonblok tidak memutuskan tempat penyelenggaraan koferensi berikutnya. (kalimat tidak benar)

b.      Konferensi tingkat tinggi negara-negara nonblok tidak memutuskan tempat penyelenggaraan konfeerensi berikutnya. (kalimat perbaikan)

c.       Dalam onferensi tingkat tinggi negara-negara nonblok tidak diputuskan tempat penyelenggaraan konferensi berikutnya. (kalimat perbaikan)

 

Kalimat (a) menimbulkan ketaksaan; apakah unsur dalam konferensi tingkat tinggi negara-negara nonblok itu menjadi subjek? Jika unsur itu sebagai subjek, maka kata dalam yang mengawasi kalimat itu ditiadakan, seperti pada kalimat (b). Jika unsur itu sebagai keterangan bukan sebagai subjek, maka pemakaian kata dalam di awal itu benar. Kemudian kalimat itu harus diubah menjadi bentuk pasif karena dalam kalimat itu tidak ditemukan pelakunya. Pengubahan itu dapat dilakukan dengan mengubah verba predikat yang berawalan meng- itu menjadi berawalan di- seperti dalam kalimat (c).

7.1.3       Pengantar Kalimat dan Predikat

Contoh:

-          Menurut ahli geologi itu menyatakan bahwa perembesan air laut telah sampai di wilayah Jakarta Pusat. (kalimat tidak benar)

Kalimat di atas terdiri dari dua bentuk kalimat yang disatukan saja, yaitu sebagai berikut:

a.       Ahli geologi itu menyatakan bahwa perembesan air laut telah sampai di wilayah Jakarta Pusat.

b.      Menurut ahli geologi itu, perembesan air laut telah sampai di wilayah Jakarta Pusat.

Jika ahli geologi itu sebagi subjek kalimat (b), penggunaan kata menurut itu tidak tepat karena subjek tidak didahului preposisi seperti itu. Jika memang menurut ahli geologi sebagai keterangan, yang berupa uangkapan pengantar kalimat, perkataan menyatakan bahwa tidak tepat. Perkataan itu ditiadakan dan predikat kalimat itu adalah telah sampai dan subjeknya perembesan air laut (lihat kalimat c).

7.1.4       Kalimat Majemuk Setara dan Majemuk Bertingkat

Kesalahan dalam bagia ini disebabkan penggunaan dua kata sambung yang seolah-olah merupakan konjungsi yang korelatif. Pemakaian konjungsi itu menyebabkan ketaksaan gagasan yang dituangkan dalam kalimat majemuk setara atau kalimat majemuk bertingkat. Contoh:

-          Meskipun kita tidak menghadapi musuh, tetapi kita harus selalu waspada.

Jika unsur pertama (meskipun kita tidak menghadapi musuh) itu merupakan keterangan, kalimat di atas merupakan kalimat majemuk bertingkat. Unsur pertama itu merupakan anak kalimat yang menyatakan pertalian konsesif, sedangkan unsur kedua merupakan induk kalimat yang berisi informasi/gagasan pokok. Dengan demikian, penggunaan konjungsi tetapi tidak tepat. Kata itu harus ditiadakan karena induk kalimat tidak didahului oleh konjungsi. Jadi, kalimat a dapat diperbaiki menjadi kalimat majemuk bertingkat seperti kalimat a, b atau c sebagai berikut.

a.       Meskipun kita tidak menghadapi musuh, kita harus selalu waspada.

b.      Meskipun tidak menghadapi musuh, kita harus selalu waspada.

c.       Kita harus selalu waspada meskipun tidak menghadapi musuh.

7.1.5       Induk Kalimat dan Anak Kalimat

Ini adalah kesalahan dalam kalimat majemuk bertingkat yang disebabkan oleh ketidakjelasan unsur-unsurnya. Bagian mana yang menjadi induk kalimat dan bagian mana yang menjadi anak kalimat. Contoh:

-          Nilai yang didapatkan lebih besar dari batas penolakan, maka hipotesis nilai ditolak.

Kalimat di atas terdiri dari dua unsur, yaitu karena nilai yang didapatkan lebih besar dari batas penolakan dan maka hipotesis nihil ditolak. Unsur pertama diawali kata karena yang menyatakan pertalian sebab dan unsur kedua diawali dengan maka yang menyatakan pertalian akibat. Dengan demikian, kedua unsur itu merupakan anak kalimat dan tidak mempunyai induk kalimat. Salah satu konjungsi harus ditidakan supaya satu dari dua unsur itu menjadi induk kalimat.

a.       Karena nilai yang didapatkan lebih besar dari batas penolakan, hipotesis nihil ditolak, hipotesis nihil ditolak.

b.      Hipotesis nihil ditolak karena nilai yang didapatkan lebih besar dari datas penolakan.

7.2 Kesalahan Diksi

Diksi adalah bidang pemilihan kata supaya kalimat yang dihasilkan memenuhi sarat sebagai kalimat yang baik. Kesalahan diksi ini meliputi kesalahan kalimat yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan kata.

Beberapa contoh kalimat yang tidak tepat pemilihan katanya beserta perbaikannya:

a.    Hasil daripada penjualan saham akan digunakan untuk memperluas bidang usaha. (tidak tepat)

b.    Hasil penjualan saham akan digunakan untuk memperluas bidang usaha. (tepat)

c.     Peningkatan mutu penggunaan bahasa Indonesia adalah merupakan kewajiban kita semua. (tidak benar)

d.    Peningkatan mutu penggunaan bahasa Indonesia adalah kewajiban kita semua. (benar)

e.    Sehubungan dengan itu maka suatu penelitian harus dibatasi secara jelas supaya simpulannya terandalkan.

f.     Sehubungan dengan itu, suatu penelitian harus dibatasi secara jelas supaya simpulannya terandalkan.

g.    Mereka pergi luar kota beberapa hari yang lalu.

h.    Mereka pergi ke luar kota beberapa hari yang lalu.

7.2 Kesalahan Ejaan

Beberapa contoh kalimat yang mempunyai kesalahan ejaan adalah sebagai berikut:

a.    Mahasiswa yang akan mengikuti ujian akhir semester, diharapkan mendaftarkan diri di sekretariat. (tidak benar)

b.    Mahasiswa yang akan mengikuti ujian akhir semester diharapkan mendaftarkan diri di sekretariat. (benar)

c.     Tokoh pendidikan yang telah pensiun itu mengatakan, bahwa kegiatan anak remaja harus diarahkan pada pertumbuhan kreativitas. (tidak benar)

d.    Tokoh pendidikan yang telah pensiaun itu mengatakan bahwa kegiatan anak remaja harus diarahkan pada pertumbuhan kreativitas. (benar)

e.    Tokoh tiga zaman itu menegaskan, “Perkembangan teknologi melaju begitu cepat dalam dua dasawarsa terakhir ini.”

f.     Tokoh tiga zaman itu menegaskan bahwa perkembangan teknologi melaju begitu cepat dalam dua dasawarsa terakhir ini.

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1.         Arifin, E. Zaenal, Tasai, S. Amran, Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, penerbit Akademika Pressindo, Jakarta, 2000, hal. 58.

2.         Arifin, Prof. Dr. E. Zaenal, Dra. Junaiyah H.M., M.Hum., Sintaksis Untuk Mahasiswa Strata Satu Jurusan Bahasa Atau Linguistik Dan Guru Bahasa Indonesia SMA/SMK, penerbit PT Grasindo, Jakarta, 2009, hal. 54-81.

3.         Chaer, Abdul, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1998, hal. 327-363.

4.         Finoza, Lamuddin, Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Nonjurusan Bahasa, penerbit Diksi Insan Mulia, Jakarta, 2009, hal. 149-187.

5.         Noerzisri, Hj., Dra., M.S., A. Nazar, Bahasa Indonesia dalam Karangan Ilmiyah, hal. 38.

6.         Sugono, Drs. Dendy, Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar, penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, cet. Pertama, April 2009, hal. 29-242.

7.         Tarigan, Prof. DR. Henry Guntur, Prinsip-prinsip Dasar Sintaksis, penerbit Angkasa, Bandung, 1983, hal. 5-37.

 

 

 

 



[1] Arifin, Prof. Dr. E. Zaenal, Dra. Junaiyah H.M., M.Hum., Sintaksis Untuk Mahasiswa Strata Satu Jurusan Bahasa Atau Linguistik Dan Guru Bahasa Indonesia SMA/SMK, penerbit PT Grasindo, Jakarta, 2009, hal. 54-81.

[2] Arifin, E. Zaenal, Tasai, S. Amran, Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, penerbit Akademika Pressindo, Jakarta, 2000, hal. 58.

[3] Chaer, Abdul, Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia, penerbit Rineka Cipta, Jakarta,

[4] Tarigan, Prof. DR. Henry Guntur, Prinsip-prinsip Dasar Sintaksis, penerbit Angkasa, Bandung, 1983, hal. 5-37.

[5] Finoza, Lamuddin, Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Nonjurusan Bahasa, penerbit Diksi Insan Mulia, Jakarta, 2009, hal. 149-187.

[6] Sugono, Drs. Dendy, Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar, penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, cet. Pertama, April 2009, hal. 29-41.

[7] Sumber bacaan dari daftar pustaka nomer 2, 3, 4, dan 6.

[8] Sumber bacaan dari daftar pustaka nomer 4 dan 6.

[9] Sumber bacaan dari daftar pustaka nomer 2,3,4,6, dan 7.

[10] Abdul Chaer mengatakan kalimat sederhana. Kalimat sederhana dibentuk dari sebuah klausa yang unsur-unsurnya berupa kata atau frase sederhana.

[11] Noerzisri, Hj., Dra., M.S., A. Nazar, Bahasa Indonesia dalam Karangan Ilmiyah, hal. 38. Lamudin Finoza, Komposisi Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa Nonjurusan Bahasa, hal. 164-165. Arifin, E. Zaenal, Tasai, S. Amran, Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, penerbit Akademika Pressindo, Jakarta, 2000, hal. 82-84.

[12] Arifin, E. Zaenal, Tasai, S. Amran, Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, penerbit Akademika Pressindo, Jakarta, 2000, hal. 84-85.

[13] Henry Guntur Tarigan mengatakan kalimat majemuk bertingkat sebagai kalimat majemuk bersusun.

[14] Noerzisri, Hj., Dra., M.S., A. Nazar, Bahasa Indonesia dalam Karangan Ilmiyah, hal. 38

[15] Sugono, DR. Dendy, Mahir Berbahasa Indonesia dengan Benar, penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, April, 2009, cet. Pertama, hal 201-236.


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar

    [Emoticon]